tab_judul

Kamis, November 18, 2010

Tertawan Jeruji Hati



sejak lama..
berhari, bermingu, berbulan bahkan bertahun
sosok penghuni setia relung kalbuku
adalah 'aku', yaa.. 'aku'
'aku' lama raib di peraduan
'aku' lama dicari mpunya
'aku' tersesat dirimba elok
'aku' tertawan jeruji hati.

relung ini..
kiranya kan sepi tanpa penghuni
nyatanya sosok yang lain bersemi
adalah 'dia', yaa.. 'dia'
'dia' singgah sejak 'aku' tiada
'dia' minggat dari mpunya
'dia' tertawan jeruji hati

'aku' sosok gesit tahu diri
tahu kapan dan kemana harus pergi
namun kali ini..
seolah tak berdaya
tertawan jeruji hati

'dia' sosok jelita yang bijaksana
tahu apa dan bagaimana berlaku
namun kali ini..
seolah hilang kekuatan
tertawan jeruji hati

seolah saling mengisi
nyatanya bertukar posisi
'aku' tertawan dia
aku menawan 'dia'


assyifa pagi...
subang, 4 nopember 2010
dyat

Aku Sama Sepertimu



ketika kau tunjukan kebahagiaanmu
jangan dikira aku tak iri padamu
ketika kau perlihatkan tegarmu
jangan dikira aku tak mengharapnya pula
ketika kau perlihatkan tawamu
jangan dikira aku suka dalam dukaku
ketika kau bisa berjalan berdampingan
jangan dikira aku bangga dalam kesendirian

Kawan..
aku sama sepertimu..
aku jg mau apa yg kau dapati
yaaahh..
aku rela.. silahkan kalian menikmatinya duluan..
sedangkan aku belakangan
yaaaahh aku rela.. aku relaa..
yaa... aku rela.., aku relaa..
:( akurela..

kawan..
aku tau harus mengejar 'bahagiaku'
kini aku harap saat yang tepat
aku akan meraihnya
aku akan mendapatkannya
aku akan mmilikinya pula
pergi tanpamu aku bisa..

kawan akan kubuktikan..
aku ini sama sepertimu..
dalam hatiku...
cemburu itu menderuuu...
luka itu menganga...
tangis itu merintih-rintih
kawan..., aku sama seprtimu
aku punya RASA dan HARAPAN..


:(..:(..:(
Tuesday, November 2, 2010 at 10:16pm

DIA itu…




  • Dia itu SENSITIF. Tanggap dalam merespon 'aura' sekitarnya, dia peduli dengan suasana hati orang2 disekelilingnya, dia rela membagi kebahgiaanya demi 'sekitar'. Dia suka merajuk tapi hanya bermanja sekedar ingin mendapat perhatian, dia seorang yang wajar dalam bersikap. Tanpa dia harus merajukpun orang2 akan menaruh simpati dan perhatian padanya.
  • Dia itu CEREWET. Focus dan tuntas rasanya lebih pantas.., dia selalu memandang ideal untuk beberapa hal, shingga apa yg dilakukannya haruslah semaksimal mungkin dia kerjakan, terlebih lagi bila dia harus mnyelesaikannya bersama 'patner, maka haruslah sang patner mampu mengimbangi kelincahan gerak dan fikirnya, terlebih lagi 'cerewetnya', intinya sii.. dia seorang yg ihsan shingga tidak asal-asalan dalam berbuat. Perfect dan maksimal.
  • Dia itu HALUS. Ibarat sutra halus, lembut, cantik, indah.. (api sama 'katter ga boleh mendekat yaa.. dia mudah koyak dan terbakar J) dia mudah memaafkan org, namun dia akan menyimpannya sebagai pelajaran.  mmm dan tidak suka Dendam ..
  • Dia itu IKHLAS. Perhatian yang penuh dan tulus pada semua, terutama "aku" (heee.. GeEr..), dia tau sang teman sedang mengharap bantuannya, maka dengan spontan dia membantu sepenuh hati.
  • Dia itu MANJA. Dia wanita yang pandai berdikari, namun naluri seorang wanita tetaplah wanita..Manjaaa boo.. (tp itu salah satu bagian yg aku suka)
  • Dia itu EGOIS. Hee terkadang dia juga hanya pikirin diriya sendiri…,gak mo tau c aku lagi sedih ato 'sibuk'.. it's ok.. (lagi" aku suka kok.. ).
  • Dia itu CINTA. Subhanallah.., bgitu besar cintanya.., aku merasa tersanjung dengan sikap dan kallimat cintanya.  
  • Dia itu SMART. Logis, ucapan dan perbuatannya bersandar pada ilmu yang dimilikinya.. Muanteb, tak Ayal dia menjadi Inspirasi bagi org" disekitarnya..
  • Dia itu AKU. Mmm… apa yaa artinya?? , artinya jgn pernah ganggu dia yaa!!! Krn aku tak akan biarkan siapapun menyakitinya.

Minggu, September 26, 2010

Seberapa Tawakal kita…

Alkisah tukang sol sepatu…

Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.

Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.

Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. "Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich." pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.

"Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?" kata mang Udin memulai percakapan.

"Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu." kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.

"Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan." kata mang Udin memelas.

"Alhamdulillah, itu harus disyukuri."

"Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga." kata mang Udin sedikit kesal.

"Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah." kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.

"Emang begitu bang?" tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.

"Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur." kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.

Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah "mampir" ke tempat shalat.

"Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah."

Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.

Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,

"Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir."

Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,

"Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya."

"Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah." kata bang Soleh tetap tersenyum.

"Abang yakin?"

"Insya Allah." jawab bang soleh meyakinkan.

"Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain." kata mang Udin penuh harap.

"Insya Allah. Allah akan menolong kita." Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.

"Apa kabar mang Udin?"

"Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat." kata mang Udin setengah menyalahkan.

Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,

"Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah."

"Oh ya, apa itu?" tanya mang Udin penasaran.

"Tawakal, ikhlas, dan sabar." kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.

Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,

"Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?"

"Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?" jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.

Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia "hanya" coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.

"Bagaimana supaya yakin bang?" kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.

Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.

"Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?" tanya bang Soleh.

"Tidak."

"Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?" lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, "Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin."

Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.

"OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang." kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.

"Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah."

Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.



by : MotivasiIslam.com

Jumat, Juli 23, 2010

More Than Just a Friend


Shouldn’t i’ll be happy
To know where i’m in to
Shouldn’t i’ll be crazy
To know that I love you

But sure it seem so hard to find
The answer yes or no
If it’s love or is it care
Between me and you

Though I can’t complain it
The time is running through
Should I live in darkness
And make myself confuse

I never know the reason why
Its happenin’ so fast
I’m awake its not a dream
That I could leave behind

More …than just a friend
That’s what it is
When it comes
And I want it to justify

So please …don’t leave me here
Will you be near
Close to me so close to say
That I love you